Thursday, October 2, 2014

Membahas Masalah Banjir


Banjir dan kelangkaan air akan selalu datang silih berganti di negeri kita yang beriklim tropis, ibarat dapat gaji terus harus bayar utang hehe.
Berbagai upaya mengatasi masalah banjir yang telah dilaksanakan sampai saat ini, ternyata belum berhasil menekan besarnya resiko kerugian yang timbul. Solusi penanganan banjir melalui infrastruktur untuk "melawan" fenomena alam, sesungguhnya mempunyai keterbatasan kinerja.

Kesadaran dan pemahaman mengenai hal ini, nampaknya kurang bahkan hampir tidak pernah disosialisasikan kepada masyarakat. Akibatnya, di lingkungan masayarakat terbentuk persepsi yang over ekspektasi terhadap penanganan banjir yang telah dilaksanakan pemerintah, yaitu menganggap bahwa dengan terbangunnya infrastruktur pengendali banjir, maka suatu wilayah akan terbebas dari banjir sampai kapanpun juga.

 Akibat persepsi yang keliru itu, masalah dan resiko kerugian akibat banjir akan semakin terus meningkat, dan masyarakat cenderung menuntut dan menyalahkan pemerintah yang selama ini dianggap sebagai aktor tunggal yang mampu membebaskan suatu kawasan dari ancaman banjir.

Bencana banjir di DKI Jakarta 1996, 2002, 2007 dan 2013 telah membuktikan hal itu. Banyak kanal dan waduk banjir, serta jaringan drainase yang telah terbangun, selang dua atau tiga tahun kemudian sudah dipenuhi sedimen dan sampah yang tak terkelola secara konsisten.


Tepian sungai,dan waduk makin tergencet oleh perkembangan permukiman baik yang legal maupun yang ilegal. Dataran banjir terlanjur dibudidayakan menjadi kawasan permukiman/perkotaan dan kawasan penting lainnya, tanpa upaya antisipasi dan adaptasi terhadap kemungkinan tergenang banjir. Ketika datang musim penghujan, banjir pun tak terelak-kan, dan kerugian yang ditimbulkannya semakin besar.

Saya mengutip laporan berita dari detik.com tentang masalah banjir masih menjadi momok bagi masyarakat DKI Jakarta, menurut survei yang dirilis oleh Median. Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menilai bahwa perilaku masyarakat yang buruk juga berpotensi menimbulkan banjir.

"Dari segi kebijakan sebetulnya sudah baik ya, ada pengerukan, perbaikan. Kalau genangan atau banjir itu muncul akibat dari drainasenya, sementara kalau sungai saya perhatikan tingginya masih cenderung normal paska hujan," ujar Sutopo saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (11/1/2014).

Sutopo melihat sejumlah drainase yang dikeruk banyak sekali terdapat sampah yang menyumbat. Hal ini merupakan cerminan perilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan.



Saya lihat ada 62 titik genangan air di Jakarta dan itu tidak berubah. Dari dulu tetap 62 titik itu. Misalnya di titik satu telah dikeruk atau diperbaiki drainasenya, nah muncul titik lainnya yang baru.
Kaitannya dengan perilaku masyarakat contohnya kita bisa lihat di Jalan Sabang, di situ kalau malam banyak sekali pedagang kaki lima yang berjualan sehingga pada pagi hari kalau kita keruk drainasenya banyak sampah,
" kata Sutopo menerangkan".

Sementara itu dari aspek teknis sebenarnya sudah banyak upaya yang dilakukan. Tetapi masyarakat juga dituntut untuk berperan aktif dan tidak hanya menyalahkan Pemprov DKI Jakarta.

"Aspek teknis sih gampang, bagaimana mengeruk sungai, memperbaiki drainase, tetapi masalah buang sampah yang masih ada. Ini masalah antropogenik, kalau masalah kebijakan sudah baik, tapi faktor pemicunya yang kurang baik. Itu menjadi tugas bersama, merubah perilaku orang itu perlu penegakan peraturan yang tegas," sebut Sutopo.


Jadi jika kita mau supaya mencegah banjir bagaimana?
  • (Menyediakan sistem perparitan)
    Cara menghadapi bencana banjir yang pertama adalah menyediakan parit atau sungai kecil. Parit yang telah dangkal akibat dari bahan-bahan sisa harus selalu dibersihkan. Dengan ini air limpahan dan hujan dapat dialirkan dengan baik.
  • (Pengerukan sungai)
    Sungai yang dangkal bisa menyebabkan bencana banjir. Jika sebelumnya sungai mampu mengalirkan sejumlah air yang banyak dalam kurun waktu tertentu, kini pengaliran telah berkurang.
    Ini disebabkan proses pemendapan dan pembuangan bahan-bahan buangan. Langkah untuk menangani masalah ini adalah dengan menjalankan proses pendalaman sungai dengan mengorek semua lumpur dan kekotoran yang terdapat di sungai.
    Bila proses ini dilakukan, sungai bukan saja menjadi dalam tetapi mampu mengalirkan jumlah air hujan dengan banyak.

  • (Pemeliharaan hutan)
    Langkah mengatasi banjir yang selanjutnya adalah memelihara hutan. Pembalakan hutan menyebabkan tanah terhakis dan runtuh ke sungai. Keadaan yang sama juga terjadi bila aktivitas pembalakan yang giat dilakukan di lereng-lereng bukit. Karena itu pemeliharaan hutan merupakan cara yang baik untuk mengatasi masalah banjir. Hutan dapat dijadikan kawasan tadahan yang mampu menyerap air hujan dari mengalir terus ke bumi.
  • (Mengontrol aktivitas manusia)
    Banjir kilat yang terjadi terutama di kota disebabkan pembuangan sampah dan sisa industri ke sungai dan parit. Untuk menangani masalah banjir, kesadaran kepada masyarakat perlu diungkapkan agar kegiatan negatif tidak terus dilakukan. contoh membuang sampah ke sungai
    seperti mengadakan kampanye mencintai sungai dan sebagainya.

    Itulah beberapa tips mencegah banjir dan cara menanggulangi banjir, semoga bermanfaat.

"Jika kita menuntut tempat tinggal yang sehat mulailah untuk mencintai lingkungan kita"

(Christian/Berbagai Sumber)
Share this article

0 comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2014 Creative thinking • All Rights Reserved.
Distributed By Follow | Template Design by Christian • Powered by Christian
back to top